TwitterFacebook
Submit a New Listing

Merokok Dan Obat Lainnya

Merokok Dan Obat Lainnya

Narkoba pelecehan umumnya memiliki berbagai efek perilaku. Berarti untuk mempelajari efek ini pada merokok dengan alasan teoretis dan praktis. Secara teoritis, mendeteksi bagaimana obat-obatan tertentu memengaruhi perilaku merokok dapat membantu kita memahami watak perilaku itu sendiri. Dari sudut pandang praktis, berarti untuk mengetahui apakah obat dapat digunakan untuk membantu menyembuhkan merokok, maupun kalau memanfaatkan obat mau membatasi upaya pengobatan.

Salah satu obat pertama yang dipelajari dengan hati-hati untuk efeknya pada merokok merupakan alkohol. Biasanya dikatakan oleh perokok bahwa mereka merokok lebih banyak ketika mereka minum. Studi laboratorium memverifikasi klaim ini secara objektif dan melangkah lebih jauh.

Pertama, riset menunjukkan bahwa itu bukan hanya fenomena sosial. Bahkan terjadi ketika orang minum dalam isolasi. Kedua, mereka gak hanya lebih selalu menyala. Dimensi embusan yang diambil dan kadar co menunjukkan bahwa orang betul-betul menghirup lebih banyak. Ketiga, itu bukan hanya karena harapan persepuluhan seseorang: itu terjadi ketika kerasa minuman itu ditutup; makin kokoh dosis alkohol makin banyak mereka merokok. Namun itu tergantung pada kepandaian waktu lalu minum dan merokok, karena efeknya sangat lemah pada peminum sosial ringan, dan alkohol bahwasanya dapat mengurangi merokok pada orang yang kira-kira gak minum sama sekali. Obat penenang (pentobarbital) dan unggahan narkotika (metadon dan morfin) juga menaikkan perokok di penyalahguna obat ini.

Salah satu obat yang menarik atensi merupakan d-amfetamin. Amfetamin sudah diresepkan untuk membantu orang untuk dilarang merokok pada teori bahwa rokok merupakan stimulan dan bahwa mengganti satu sama lainnya wajib mengurangi merokok. Namun, teorinya sangat disederhanakan (merokok dapat menstimulasi dan rilex), dan perlindungannya gak berhasil. Ketika diserahkan amfetamin, orang bahwasanya merokok lebih banyak. Studi ini mengukur beberapa faktor dan menunjukkan bahwa orang-orang merokok lebih banyak, mengambil lebih banyak kepulan, mencapai tingkatan asupan asap (co) yang lebih besar, mengisap rokok lebih jauh, dan merasa lebih baik sekarang merokok.

Penemuan tentang d-amfetamin menunjukkan teori yang saling terkait. Merupakan, obat-obatan yang menghasilkan perasaan positif (euforia) dapat menaikkan merokok. Obat-obatan tertentu layaknya amfetamin tampaknya euforia yang lebih universal dan dapat memengaruhi sebagian luas perokok di suatu ruang. Obat-obatan lainnya layaknya alkohol mungkin hanya euforia pada orang tertentu dan dapat menaikkan merokok hanya pada orang-orang ini. Kafein memiliki efek yang relatif kecil pada merokok. Ini mungkin karena pada sekarang yang sama kafein memberikan stimulasi dan euforia, itu juga dapat menjadi orang lebih gugup. Penemuan ini tentang efek obat psikoaktif memiliki implikasi pengobatan yang berarti. Salah satu dari banyak obat yang biasa digunakan seseorang sekarang merokok hendaknya dihindari ketika ia berjuang berhenti merokok.

Penemuan dari studi di atas menyebabkan hipotesis bahwa obat yang membatasi efek nikotin dalam tubuh dapat mengganti kebiasaan merokok terlepas dari pengaruhnya terhadap atmosfer hati. Oleh karena itu, diperkirakan bahwa pemeliharaan dengan bentuk yang cantik yang gak dalam bentuk tembakau mau mengurangi merokok. Ini karena, walau nikotin memiliki efek euforia, itu layaknya memberi seseorang rokok yang jauh lebih kokoh dan ia wajib mengubahnya dengan merokok lebih sedikit. Dalam beberapa riset sukarelawan diberi nikotin baik dalam bentuk intravena maupun dalam bentuk permen karet. Hasilnya tidak berubah-ubah dengan hipotesis; maksudnya, orang merokok lebih sedikit.

Obat yang mengurangi efek nikotin wajib menaikkan kebiasaan merokok ketika perokok berjuang memberikan kompensasi. Sebuah riset dilakukan di mana obat antihipertensi, mecamylamine, diserahkan dalam bentuk kapsul. Menurut teori, kalau dosis nikotin tiba-tiba dikurangi karena sudah diblokir, orang tersebut wajib merokok lebih banyak. Hasilnya tidak berubah-ubah dengan hipotesis; maksudnya, orang merokok lebih banyak. Secara teoritis, kalau pemblokir layaknya itu diserahkan terus menerus, orang tersebut pada akhirnya mau berhenti merokok karena mereka gak mau mendapatkan kesenangan dari merokok. Pengujian pendahuluan memverifikasi ini benar. Hasil ini menunjukkan bahwa obat tersebut pada akhirnya dapat membantu orang untuk berhenti merokok kalau diulang tiap hari.

Saya senang mengatakan bahwa setelah menjadi perokok berat, suami saya dan saya bersama berhenti merokok 12 tahun yang lalu!

Kita menjadi blog web kita sendiri dengan harapan kita mau dapat membantu beberapa orang keluar dari kebiasaan merokok mereka sendiri dan dalam proses menyelamatkan kesehatan mereka dan beberapa

Untuk info lebih lanjut, dukungan dan banyak usul klik pada tautan di sini dan kunjungi gosign.co.id hari ini!